‘Aku benar-benar tidak berniat ikut! Tidak berniat sama
sekali. Ini membosankan sangat-sangat membosankan. Kenapa mereka memilih tempat
ini? Kenapa orang tuaku sangat senang ke tempat ini? Di sini tidak ada yang
menarik bagiku, aku hanya mengantuk-mengantuk dan mengantuk.’
Aku mendesah kesal
dan menjerit dalam hati. Lagi-lagi Ibu dan Ayahku mengajakku ke toko buku.
Awalnya aku berpikir kalau aku akan mati bosan di toko buku ini tapi semua yang
kupikirkan ternyata salah setelah aku bertemu dengannya...
Dia, memakai
ransel berwarna hitam, celana jeans hitam dan baju berwarna biru tua,
aku memperhatikannya terus menerus, dia sedang membaca sebuah buku yang tidak
kuketahui judulnya. ‘Dia benar-benar
tampan’ pikirku. Kulitnya yang tidak begitu gelap, rambutnya hitam lurus namun
sedikit berantakan dan badannya yang tinggi dan tegap.
‘Apa dia seorang modelTapi, jika iya. kenapa ia ada di sini?
Apa ia tersesat?” Pikirku.
Aku terus
memperhatikannya sampai ia akhirnya menoleh padaku. Ia telah menyadari kalau
ada seorang gadis yang memandanginya sejak tadi. Aku benar-benar salah tingkah
saat dia menatapku bingung, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah sebuah
buku yang benar-benar tidak kumengerti apa maksud judul buku itu. ‘Apa ini
tulisan Jepang? Korea? Atau Cina? Ah sial, ini buku apa?’ Aku menjerit kesal
dalam hati, kenapa ada buku yang judulnya benar-benar tidak dimengerti
maksudnya terselip di sini, di toko buku ini.’
Setelah semenit memperhatikan buku tidak
jelas itu, mataku kembali mengarah ke...
‘Ke mana dia?’
Dia menghilang,
aku mengelilingi toko buku itu tapi tetap tidak menemukannya. Di mana dia?
“Hi”
Aku membalikkan
badanku untuk mengetahui siapa orang itu, dan sungguh sangat terkejut karena
dia adalah orang yang sejak tadi kucari.
“Hm.. Halo.” Aku tersenyum gugup, sungguh! Dia dua kali
lebih tampan dari dekat.
“Sedang mencari sesuatu?” Tanyanya.
“Hmm.. ya.” Jawabku.
“Sebuah buku?” Dia menaikkan sebelah alisnya yang tebal.
Aku hanya bisa mengangguk karena aku benar-benar sangat
gugup.
“Buku apa?”
“Hmm.. hanya sebuah novel.”
“Ouhh. Kalau begitu aku duluan, bye-“
Aku mengatur
napasku saat itu, berada di dekatnya benar-benar membuatku tidak bisa bernapas
karena terlalu gugup. Sial! Aku memperhatikannya membayar buku yang dibelinya
lalu keluar dari toko buku yang membosankan ini. Lalu.. apa selanjutnya?
Sejak saat itu,
aku benar-benar paling semangat jika aku diajak ke toko buku itu. Aku berharap
bisa bertemu dengannya lagi, namun semuanya sia-sia, aku tidak menemukannya.
Dia tidak datang lagi ke toko buku itu..
Tapi, aku masih
terus berharap bisa melihat wajah tampannya, pertemuan singkat itu benar-benar
membuatku terus-terus saja memikirkannya. AKHH.. kenapa bisa begini?
To be continue...
-Wkwk.. palingan ga ada yang baca -_- Kesihan-
To be continue...
-Wkwk.. palingan ga ada yang baca -_- Kesihan-
Keren.. lanjutin ye. hahaha
BalasHapusIyo..
Hapus(y)
BalasHapus