Selasa, 25 Februari 2014

Pertemuan singkat



‘Aku benar-benar tidak berniat ikut! Tidak berniat sama sekali. Ini membosankan sangat-sangat membosankan. Kenapa mereka memilih tempat ini? Kenapa orang tuaku sangat senang ke tempat ini? Di sini tidak ada yang menarik bagiku, aku hanya mengantuk-mengantuk dan mengantuk.’
    Aku mendesah kesal dan menjerit dalam hati. Lagi-lagi Ibu dan Ayahku mengajakku ke toko buku. Awalnya aku berpikir kalau aku akan mati bosan di toko buku ini tapi semua yang kupikirkan ternyata salah setelah aku bertemu dengannya...
    Dia, memakai ransel berwarna hitam, celana jeans hitam dan baju berwarna biru tua, aku memperhatikannya terus menerus, dia sedang membaca sebuah buku yang tidak kuketahui judulnya.  ‘Dia benar-benar tampan’ pikirku. Kulitnya yang tidak begitu gelap, rambutnya hitam lurus namun sedikit berantakan dan badannya yang tinggi dan tegap.
‘Apa dia seorang modelTapi, jika iya. kenapa ia ada di sini? Apa ia tersesat?” Pikirku.
    Aku terus memperhatikannya sampai ia akhirnya menoleh padaku. Ia telah menyadari kalau ada seorang gadis yang memandanginya sejak tadi. Aku benar-benar salah tingkah saat dia menatapku bingung, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah sebuah buku yang benar-benar tidak kumengerti apa maksud judul buku itu. ‘Apa ini tulisan Jepang? Korea? Atau Cina? Ah sial, ini buku apa?’ Aku menjerit kesal dalam hati, kenapa ada buku yang judulnya benar-benar tidak dimengerti maksudnya terselip di sini, di toko buku ini.’
    Setelah semenit memperhatikan buku tidak jelas itu, mataku kembali mengarah ke...
‘Ke mana dia?’
    Dia menghilang, aku mengelilingi toko buku itu tapi tetap tidak menemukannya. Di mana dia?
“Hi”
    Aku membalikkan badanku untuk mengetahui siapa orang itu, dan sungguh sangat terkejut karena dia adalah orang yang sejak  tadi kucari.
“Hm.. Halo.” Aku tersenyum gugup, sungguh! Dia dua kali lebih tampan dari dekat.
“Sedang mencari sesuatu?” Tanyanya.
“Hmm.. ya.” Jawabku.
“Sebuah buku?” Dia menaikkan sebelah alisnya yang tebal.
Aku hanya bisa mengangguk karena aku benar-benar sangat gugup.
“Buku apa?”
“Hmm.. hanya sebuah novel.”
“Ouhh. Kalau begitu aku duluan, bye-“
    Aku mengatur napasku saat itu, berada di dekatnya benar-benar membuatku tidak bisa bernapas karena terlalu gugup. Sial! Aku memperhatikannya membayar buku yang dibelinya lalu keluar dari toko buku yang membosankan ini. Lalu.. apa selanjutnya?
    Sejak saat itu, aku benar-benar paling semangat jika aku diajak ke toko buku itu. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi, namun semuanya sia-sia, aku tidak menemukannya. Dia tidak datang lagi ke toko buku itu..
    Tapi, aku masih terus berharap bisa melihat wajah tampannya, pertemuan singkat itu benar-benar membuatku terus-terus saja memikirkannya. AKHH.. kenapa bisa begini?

To be continue...

-Wkwk.. palingan ga ada yang baca -_- Kesihan-

3 komentar: