~Special
And Regular~
Cast : Jieun, Hyunwoo
Other Cast: Jiyeon, Sulli
Lenght: Twoshoot
Writer : Latifah Ramdhani
.Judulnya ! Apa lagi itu? gue ga tau
bikin judul. Ternyata yang susah itu ya buat judul. Jadi, kalau judulnya KAGAK
sesuai gue mian mian sorry ya. Trus kalau ceritanya ancur seancur muka gue,
mohon maaf mian mian sorry bro~
Chapter1
Suara musik game terdengar dari sudut cafe, seroang gadis dengan
ponselnya bermain dengan sangat seru, dihadapan gadis itu, seroang pria yang
terlihat seumuran dengan gadis itu membaca buku sambil mendengarkan musik dari
erphonenya.
Sesekali gadis itu meminum minuman yang ia
pesan, dan saat ia kalah ia akan menggerutu kesal membuat pria dihadapannya itu
menggeleng.
“Huh! Aku bosan!” Kata gadis itu lalu
meletakkan ponselnya dimeja. “Kau! Kapan kau berhenti membaca buku itu?”
“....” Tidak ada jawaban dari pria
dihadapannya.
“Yak! Hyunwoo-ya.” Seru gadis itu lagi.
pria yang ternyata bernama Hynwoo itu tidak menjawab apapun, mungkin ia tidak
mendengar gadis itu memanggilnya.
Gadis itu menghembuskan napas kesal. “Huh!!
Kau selalu sibuk dengan dirimu sendiri.” Katanya kesal. “Hyunwoo-ya~~~” Kata
gadis itu sedikit teriak yang membuat para pelanggan lain refleks berbalik
mengarah mereka berdua.
Akhirnya Hyunwoo, pria itu sadar kalau
gadis dihadapannya memanggilnya.
“Huh.. ada apa denganmu, Jieun-a? Kau
sukses membuat mereka berbalik kearah kita.” Kata Hyunwoo sambil melepas
erphone-nya dan menutup bukunya.
Gadis yang ternyata bernama Jieun itu mencibir
kesal. “Itu karena kau juga.” Katanya pelan. “Siapa suruh tidak memperdulikanku
dan hanya memperhatikan buku itu.”
“Jieun-a, apa kau lupa? Besok ada ujian,
kenapa kau begitu santai? Hah? Kenapa kau tidak membuka buku pelajaranmu dan
belajar bersamaku?”
“Aishh.. jadi sejak tadi kau belajar? Huh,
mian.. aku tidak tahu.” Kata Jieun sedikit menyesal. “Aku ingin belajar tapi
aku benar-benar tidak ada mood untuk itu.”
Hyunwoo menggeleng pelan.
“Belajar pun percuma, tidak ada yang bisa
masuk diotakku. Apalagi besok matematika.” Jieun menggeleng dan mengangkat
kedua tangannya. “Aku pasrah kalau nilai matematikaku hancur. Itu bukan
masalah, aku sudah terbiasa untuk itu.”
Hyunwoo menghembuskan nafas dengan sedikit
kesal. “Mari belajar bersama!! Aku akan mengajarimu apa yang tidak kau
ketahui.” Katanya dengan sedikit emosi.
“ Aku tidak ingin menyusahkanmu. Jadi,
belajarlah sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan menganggumu kalau kau sedang
belajar. Miann..” Kata Jieun lalu mengambil ponselnya dan kembali memainkan
gamenya.
_________________
Malamnya, Jieun sedang menonton acara
komedi, ia benar-benar tertawa terbahak-bahak membuat Ibunya beberapa kali
menegurnya. Sampai ia berhenti tertawa ketika Hyunwoo menelponnya.
“Wae?” Jieun.
“Apa kau sudah belajar?” Tanya Hyunwoo.
Jieun menghembuskan nafas kesal. “Tidak,
aku tidak akan belajar. Kalau kau menelponku hanya karena ingin bertanya
seperti itu, lebih baik kau tidak usah menelponku.” Kata Jieun kesal dan
memutuskan telepon. Ibunya yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa
menggeleng melihat sikap anaknya.
“Aishh.. selalu saja ia seperti itu.
Memangnya ia siapa? Apa dia benar-benar namjachingu-ku atau dia
orangtuaku? Cih, sikapnya benat-benar mirip Ayah.” Kata Jieun dengan emosi
meluap-luap.
---
Hyunwoo menggeleng saat Jieun memutuskan
sambungan telepon. “Aish.. aku benar-benar kesal dengan sikapnya. kenapa aku
bisa jatuh cinta dengan gadis seperti dia??” Serunya kesal.
Hyunwoo kembali mengambil pulpennya dan
mencoba menjawab soal-soal yang ada pada buku paketnya. Tiba-tiba ia berhenti
dan meletakkan pulpennya dengan kesal.
“Aishh.. apa dia marah padaku? Ah,
entahlah.” Katanya lalu memaksakan dirinya kembali mengambil pulpennya.
Pikirannya dipenuhi oleh Jieun yang sepertinya marah padanya. Sesekali Hyunwoo
menggeleng ketika ia mengingat Jieun lagi.
____________________
Besok paginya di sekolah, Jieun datang
lebih awal dan mengobrol dengan teman kelasnya.
“Jadi.. apa kau belajar dengannya?” Tanya
Salah satu teman kelasnya yang duduk disampingnya.
“Siapa? Hyunwoo? Haha.. aku tidak suka
belajar. Walau mau diajar oleh dia pun aku tetap tidak suka belajar.” Jawab
Jieun dengan tawanya yang menggema di ruang kelasnya.
Hyunwoo datang, dengan sikap pendiamnya ia
berjalan masuk ke kelas. sekali melirik Jieun, lalu kembali melirik yang
lainnya.
Saat ujian berlangsung, Jieun benar-benar
tidak tahu apapun, dia hanya menggeleng dan menjawab asal. Dia benar-benar
sudah pasrah dengan otaknya yang benar-benar tidak bisa dalam soal matematika,
fisika dan juga kimia.
Hyunwoo sedikit memperhatikan Jieun, ia
menghembuskan nafasnya dengan kesal.
_______________________________
Setelah ujian, Hyunwoo duduk di samping
kelasnya dibangku berwarna hijau panjang yang memang disiapkan untuk bersantai.
Tiba-tiba Jieun lewat dengan temannya. Hyunwoo menatapnya sambil menyipitkan matanya
dan melmbaikan tangan pertandah memanggilnya Jieun.
Jieun membiarkan temannya pergi dan ia
berjalan dengan kesal menuju Hyunwoo. Hyunwoo menyuruh Jieun duduk
disampingnya.
“Hm ada apa?” Tanya Jieun sambil tersenyum
tipis pada Hyunwoo.
“Bagaimana ujiannya?” Tanya Hyunwoo.
Jieun tertawa pelan. “Kenapa menanyakan
itu? Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi denganku saat mengerjakan soal
matematika.”
Hyunwoo menyipitkan matanya, mendecakkan
lidah dan mengangguk. “Kau benar! kenapa aku bertanya seperti ini?”
“Haha.. bagaimana? Apa kau mau ke kantin?”
Tanya Jieun.
Hyunwoo menggeleng. “Aku tidak lapar. Kau
pergilah!”
“Baiklah, paii..” Kata Jieun sambil
melambaikan tangannya dan berjalan menuju kantin.
_____________________________________
Jieun makan dengan lahapnya, ia sangat
kelaparan karena tadi pagi ia tidak sarapan karena takut terlambat ke sekolah.
Tapi, ternyata sampai di sekolah, ujian baru dimulai pukul 8.
Teman kelasnya yang bernama Sulli
menggeleng pelan. “Makanlah dengan pelan. Kalau kau tersedak kau akan
menggemparkan kantin ini. haha.”
“Kau diam saja, makanlah makananmu! Jangan
mengurusiku. Aku sangat lapar sekarang.” Kata Jieun lalu memakan makanannya
lagi.
Tiba-tiba, seorang siswi datang dan duduk
disamping Jieun dan menggeleng melihat kelakukan Jieun.
“Aishh.. apa kau benar-benar pacar
Hyunwoo?” Tanya siswi itu.
Jieun berhenti memakan makanannya dan
berbalik mengarah siswi itu. Jieun memperhatikan papan namanya. Siswi itu
bernama Jiyeon. Jieun memutar bola matanya, meminum minuman yang ia pesan lalu
kembali menatap Jiyeon.
“Apa maksudmu?” Tanya Jieun sambil
mengangkat sebelah alisnya.
Jiyeon memperhatikan Jieun dari atas sampai
bawah. “Aku tidak mengerti kenapa ia memilihmu. Kau sangat biasa.”
Sulli yang kesal mendengarnya langsung
menegurnya. “Yak! Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?”
“Kau tahu siapa Hyunwoo? Dia adalah si
siswa yang posisinya tidak bisa tergantikan dirangking 1 umum. Aku benar-benar
ingin mengalahkan tapi itu mustahil. Hm.. lalu kau? Aishh.. kau hanya
membuatnya malu dengan otakmu yang tidak berguna itu!”
Jieun terkejut dengan kalimat yang keluar
dari mulut Jiyeon. Jieun tahu kalau Jiyeon adalah siswi yang pintar dan dia
adalah siswi yang menempati rangking 2 umum. Tapi, ia kesal atas pernghinaan
yang diberikan untuknya.
“Apa aku pernah membuatmu kesal? Hah?
Kenapa kau menghinaku dengan mulutmu itu?” Tanya Jieun berusaha menahan emosi.
Ia menahan dirinya agar tidak menendang mulut Jiyeon.
“Kau benar-benar!” Kata Sulli dan hampir
saja meninju wajah Jiyeon, untung saja Jieun dengan cepat menahan tubuh Sulli.
“Apa aku salah? Aku rasa aku benar, otakmu
memang tidak berguna! Kau hanya membuatnya malu.. dan lagi.. aku mendengar dari
yang lainnya kalau kau yang mengejar-ngejarnya. Cih, kau benar-benar tidak
punya rasa malu!” Kata Jiyeon pedas. Jieun menatapnya kesal, amarahnya
benar-benar susah ia tahan. Hampir saja ia ingin mengeluarkan kata-kata kotor
untuk Jiyeon.
“Hmm..” Jiyeon melirik jam tangannya. “Aku
harus pergi. paii.. selamat menikmati sarapanmu!” Katanya dengan manis, namun
tatapannya benar-benar sinis.
Sulli mencibir. “Uekk.. sepertinya aku mau
muntah melihat wajahnya.”
Jieun menghembuskan nafas sedih.
“Sepertinya ia benar.”
“Yak Jieun-ah! Apa maksudmu? Hah? Dia hanya
iri denganmu yang bisa mendapatkan Hyunwoo. Aku dengar ia juga menyukai
Hyunwoo.”
“Aku sudah kenyang. Aku pergi dulu.” Kata
Jieun lalu pergi meninggalkan Sulli yang kesal dengan sikapnya. Otak Jieun
benar-benar dipenuhi dengan apa yang dikatakan oleh Jiyeon. Sepertinya ia
termakan oleh kalimat pedas Jiyeon.
______________________
Jieun yang duduk dibelakang Hyunwoo
memperhatikan punggung Hyunwoo dengan tatapan sedih.
“Yap! Sepertinya Jiyeon benar. aku hanya
membuat malu Hyunwoo dengan otakku yang pas-pasan. Aku tidak pintar dalam
pelajaran apapun, apalagi matematika. Huh.. ya, mungkin Hyunwoo malu punya yeojachingu
sepertiku. Semuanya fakta, Hyunwoo selalu menyuruhku belajar, jika ia
menelponku.. ia hanya menanyakan apakah aku sudah belajar atau tidak? intinya
ia berusaha keras merubahku.. entahlah, apa ini untuk kebaikanku, atau karena
ia malu karena aku yang bodoh?”
“Yak Jieun-a? Apa yang kau pikirkan? Aku
sudah memanggil namamu sejak tadi?”
Tiba-tiba Jieun tersadar. “Ah?”
Derai tawa pun terdengar untuk Jieun. Jieun
menghembuskan nafasnya. “Maaf.” Kata Jieun lalu berdiri dan membungkuk sampai
90derajat.
“Araesso.. duduk!” Kata gurunya. Jieun pun
duduk.
“Yah.. pasti ia malu sekarang. Malu dengan
sikapku.” Kata Jieun. “Harusnya aku tidak menyatakan rasa sukaku dan memaksanya
menerimaku. Dia hanya kasihan padaku... ahh siall!! Ia bahkan tidak pernah
mengatakan ‘saranghae’ padaku.. itu sudah jelas kalau ia tidak
menyukaiku.”
________________________
Hyunwoo menunggu Jieun yang dipanggil oleh
walikelas di gerbang sekolah.
“Huh.. dia lama sekali.” Kata Hyunwoo
sedikit mengeluh.
“Kenapa belum pulang?” Tanya Jiyeon yang
tiba-tiba datang.
“Sedang menunggu seseorang.” Jawab Hyunwoo.
“Ouh.. apa Jieun?”
Hyunwoo mengangguk.
“Baiklah, aku duluan. Paii.. selamat
menunggu.” Kata Jiyeon dengan manis. “Cih, dia benar-benar bodoh dalam memilih
pasangan.” Batin Jiyeon kesal.
Jieun keluar dari ruang walikelasnya lalu
berjalan dengan lesuh. “Kemungkinan aku tidak bisa naik kelas, kalau nilaiku
terus-terusan seperti ini. aishh.. lalu aku harus apa? Ini pemaksaan, kalau
memang otakku ini tidak mampu, aku harus bagaimana? Arghh..”
“Kau kenapa lama sekali?” Tanya Hyunwoo
yang tiba-tiba ada dihadapannya.
Jieun bingung. “Kenapa kau ada di sini?”
“Kau pikir kenapa? Tentu saja menunggumu.
Ayo!” Kata Hyunwoo.
Jieun berjalan dengan lesuh.
“Ada apa? Kenapa kau dipanggil walikelas?”
Tanya Hyunwoo.
“Bukan, bukan apa-apa.” Jawab Jieun.
“Kalau itu bukan apa-apa, kenapa kau
terlihat lesuh?” Tanya Hyunwoo.
“Huh.. tidak apa.” Kata Jieun.
Hyunwoo benar-benar tidak mengerti dengan
apa yang terjadi dengan Jieun.
_______________________
Jieun memperhatikan nilai-nilainya
diraport. Nilainya benar-benar standar. Bahkan ada yang dibawah standar.
“Kenapa harus ada sekolah? Ini mengerikan.
Kalau aku tidak naik kelas, apa yang akan mereka katakan padaku? Mereka akan
menghinaku.”
“Bagaimana dengan Hyunwoo? Huh, Hyunwoo
akan semakin malu. Aku menyukainya, benar-benar menyukainya, tapi aku tidak
tahu dia menyukaiku apa tidak, karena ia tidak pernah menyatakan hal itu.”
Jieun teringat perkataan Jiyeon. “Huh! Dia
benar. lebih baik aku mundur.. aku hanya membuatnya malu.”
FlashBack
“Aku menyukaimu!” Jieun menyatakan
perasaannya pada Hyunwoo.
Hyunwoo terkejut dan bingung dengan apa
yang dinyatakan Jieun. Dia hanya mengkerutkan dahi dan tidak menjawab.
Jieun menelan ludah. Hyunwoo terdiam.
“Huh, baiklah. Aku tahu kalau kau tidak
menyukaiku. Tapi, bisakah kau menerimaku? Kumohon! Aku sangat-sangat
menyukaimu!! Kumohon!!“
“Baiklah.”
“Baiklah?” Jieun terkejut. Ia benar-benar
tidak menyangka bahwa Hyunwoo akan menerimanya.
“Apa kau menginginkan aku menjadi pacarmu?”
Jieun mengangguk sambil menggigit bibir
bawahnya.
“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang aku
adalah pacarmu.” Kata Hyunwoo yang membuat Jieun terkejut, heran namun senang.
“Benarkah? Kau tidak bercanda, bukan?”
Hyunwoo menggeleng. “Aku tidak bercanda.”
FlashBack –END-
“Yap, mengherankan sekali kenapa ia bisa
langsung menerimaku begitu saja. Kita tidak pernah akrab sama sekali. walau
sekelas, kita hanya mengobrol seadanya. Yap, kesimpulannya adalah, Hyunwoo dulu
menerimaku hanya karena KASIHAN. Bukankah ini benar-benar menyedihkan?”
Jieun benar-benar sedih.
_________________________
Hyunwoo duduk dimeja belajarnya, ia bingung
dengan apa yang terjadi pada Jieun. Tiba-tiba ia teringat dengan Jiyeon.
“Bukankah orang yang menyapaku tadi di
gerbang adalah Jiyeon? Jiyeon yang.....”
FlashBack
“Itu mustahil! Dia itu bodoh! Bagaimana
mungkin orang seperti Hyunwoo bisa menyukainya.”
Hyunwoo yang duduk dibawah pohon, di taman
belakang sekolahnya, tidak sengaja mendengar Jiyeon dan temannya membicarakan
seseorang. Awalnya ia tidak peduli, tapi saat mendengar Jiyeon menyebut
namanya, ia langsung tertarik mendengar apa yang dibicarakan Jiyeon dan
temannya itu.
“Ya kau benar! Jieun benar-benar tidak
punya rasa malu. Harusnya ia sadar diri kalau dia itu sama sekali tidak pantas
menyukai Hyunwoo.” Kata temannya.
“Jieun?” Batin Hyunwoo.
“Aku dengar dia akan menyatakan
perasaannya.” Kata Jiyeon sambil menggeleng.
“Benarkah? Aishh.. Jieun benar-benar
nekat.”
“Aku yakin ia akan ditolak. Haha, dan aku
akan mempermalukannya di depan semua orang.”
Hyunwoo yang mendengar semuanya hanya bisa
menggelengkan kepalanya.
FlashBack –END-
“Ahh.. iya. wanita licik itu! Karena
Jiyeonlah aku menerima Jieun. Yap, sehari setelah itu Jieun menyatakan
perasaannya padaku, awalnya aku benar-benar tidak ingin menerimanya.. huh
menyedihkan. Tapi, mengingat yang dikatakan Jiyeon tentang ia akan
mempermalukan Jieun didepan semua orang, aku menjadi kasihan dan menerimanya.”
“Tapi, sungguh. Awalnya aku tersiksa
dengan sifat kebodohannya, kegilaannya,
kemalasannya, dan semuanya.. tapi lama kelamaan aku terbiasa dengan itu semua
dan menerimanya. Waktu terlalu cepat berlalu, awalnya hanya sebuah ‘rasa
kasihan’ menjadi ‘rasa suka’ sial! Ini membuatku gila.”
“Sebelum aku berpacaran dengannya, aku
tidak pernah merasa sepusing seperti ini. hidupku benar-benar normal, dan
sekarang? Semuanya berubah.”
____________________
Jieun menghembuskan nafas sedih.
“Aku akan ikut les privat.” Kata Jieun.
“Woah.. itu bagus!” Kata Sulli.
“Tapi, aku tidak tahu itu akan berhasil
atau tidak.”
“Kau hanya harus mencobanya. Tapi.. apa kau
menyewa seorang guru?”
Jieun memandang bingung Sulli. “Kalau aku
tidak menyewa, siapa yang akan mengajariku? Aishh. Kau ini benar-benar!”
“Tapi, pacarmukan bisa mengajarimu. Dia itu
sangat pintar!”
“Diamlah, aku tidak ingin membahas tentang
dia.”
“Hah? Apa kalian bertengkar.”
“Aku bilang stop!”
“Araesso.” Kata Sulli sedikit
kesal.
Saat Hyunwoo masuk ke kelas, Jieun hanya
terdiam, tidak melirik Hyunwoo sama sekali yang membuat Hyunwoo bingung lalu
duduk ditempat duduknya.
“Huh, aku benar-benar merinudukan dia! aku
ingin sekali berbicara dengannya. Akhir-akhir ini kita jarang bicara. Tapi..
sepertinya ini lebih baik, aku tidak ingin menyusahkannya terlalu banyak. Dan
sepertinya, jalan terbaik adalah..” Jieun menelan ludah. “Melepaskannya.”
Katanya lalu menghembuskan nafas kesal.
Hyunwoo mengkerutkan dahinya dengan sikap
Jieun yang sekarang.
__________________
Jieun mencubit-cububiti pipinya sendiri
didepan cermin. “Arghh.. aku ingin sekali bertemu denganmu Hyunwoo!!!! Pulang
sekolah tadi aku benar-benar menyesal tidak pulang bersamamu.. Hyunwoo-ya, ini
mengesalkan!”
Ketukan pintu terdengar. “Yak Jieun-a! Guru
privatmu sudah datang.”
Jieun benar-benar kesal. “Ne.” Kata Jieun
dan berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Hyunwoo?, ke-kenapa kau ada di sini?”
Tanya Jieun yang terkejut dengan kedatangan Hyunwoo, namun ia juga sangat
senang.
Hyunwoo memiringkan kepalanya dan mengangkat
bahunya. “Ambil bukumu!” Katanya lalu masuk ke dalam kamar Jieun.
“Ibu, kenapa ia ada di sini? Bukankah..
ahh..”
“Ya, dia adalah guru privatmu. Ibu lebih
mempercayai dia daripada yang lain, karena Ibu sudah mengenalnya lama.. jadi,
mulai sekarang kau harus belajar dengan baik darinya. Ibu ingin mengambilkan
kalian makanan ringan.” Kata Ibunya lalu berjalan menuju dapur.
Jieun masih berdiri mematung didekat pintu.
“Apa ini mimpi?”
“Yak Jieun-a! Kenapa kau masih berdiri di
sana? Ambil bukumu dan beritahu aku yang mana yang tidak kau mengerti!” Kata
Hyunwoo yang duduk dikursi meja belajar Jieun sambil memperhatikan foto Jieun
yang terpajang dimeja belajarnya dengan bingkai berwarna merah jambu. Hyunwoo
hanya tersenyum tipis melihatnya.
Jieun yang tahu kalau fotonya diperhatikan
langsung mengambilnya dan menyimpan dilacinya lalu mengambil buku matematika dan
mengambil sebuah kursi lalu duduk disamping Hyunwoo.
“Semuanya.” Kata Jieun. “Aku tidak mengerti
dengan semuanya.”
Hyunwoo akhirnya mengajari Jieun dengan
susah payah. Jieun benar-benar susah diajar.
Ibunya masuk dan memberikan mereka sebuah makanan
ringan, Hyunwoo berterimakasih dan Ibu Jieun pun keluar.
Jieun memegang kepalanya. “Aku sangat
pusing. Akhh..” Katanya mengeluh lalu mengambil biskuit yang dibawah oleh
Ibunya dan langsung menggigitnya dengan kesal.
Satu stengah jam Hyunwoo mengajarkan Jieun
lalu ia memberikan 2 soal dan benar-benar membuat Hyunwoo harus menggelengkan
kepalanya beberapa kali karena 2 soal yang diberikan Hyunwoo, Jieun hanya bisa
menjawab stengah dari nomor satu.
“Huh, kau benar-benar susah diajar. Tapi,
ini sudah cukup baik karena kau bisa
mengerjakan stengah dari nomor satu.” Kata Hyunwoo lalu berdiri dari duduknya.
“Aku harus pulang.”
Jieun mengangguk. “Gomawo.”
“Hm.”
Jieun mengantar Hyunwoo sampai depan pintu.
“Pai.” Katanya lalu melambaikan tangan.
Hyunwoo melangkah pergi, namun ia
menghentikan langkahnya dan berbalik. “Aku ingin jalan-jalan dulu. Karena aku
sudah mengajarmu, kau harus membayarku dengan menemaniku.”
===
Jieun dan Hyunwoo akhirnya berjalan-jalan
ditaman kompleks perumahan.
“Aishh.. apa aku mengatakannya saja
sekarang? Mengatakan kalau aku akan melepaskannya dan meminta maaf karena
menyusahkannya selama ini?” Batin Jieun.
Hyunwoo mengajak Jieun duduk dibangku
dibawah pohon rindang di taman itu.
Hyunwoo melipat tangannya. “Butuh kesabaran
untuk mengajarmu. Ini kali pertamanya aku mengajari seseorang dan rasanya
benar-benar mengesalkan. Haha..”
“Mian.”
“Kau tidak perlu minta maaf.” Kata Hyunwoo
sambil bersandar.
“Hyunwoo-ya..” Seru Jieun.
“Hm?”
Jieun menghembuskan nafasnya dengan berat.
“Aku ingin mengakhiri semuanya.”
Hyunwoo melirik Jieun, dahinya mengkerut
karena bingung. “Mengakhiri apa?”
“Mengakhiri hubungan kita, aku tidak ingin
menyusahkanmu lagi. aku benar-benar sadar sekarang kalau aku tidak pantas
berada disampingmu.”
Hyunwoo terdiam, ia benar-benar bingung.
“Aku hanya beban untukmu, aku hanya
mempermalukanmu.. jadi, lebih baik kita akhiri semuanya. yahh.. terimakasih
karena kau telah menerimaku. Terimakasih.”
“Dan lagi, kau tidak usahh mengajariku
lagi, aku akan mencari penggantimu.” Kata Jieun lalu berjalan pergi.
Hyunwoo terdiam, ia benar-benar bingung dan
hatinya sangat sakit mendengar apa yang dikatakan Jieun. Dan bodohnya lagi, ia
hanya bisa diam.
____________________
To be
contuined........
Kenape? Ceritanya
kagak bagus? Iyalah. Siapa dulu dong yang buat? Gue! Hahaha.. mian mian sorry
yo! Gue ga begitu berbakat :”( gue masih baru. Tapi, kalau kalian mau gue
lanjutin chapter duanya.. gue bakal lanjutin, tapi kalian pada kagak mau. Ya
udin. Gue ga bakal lanjut kok J Thanks yang udah baca! THAANKKSS!! LOL