Rabu, 27 Agustus 2014

Special and Regular


~Special And Regular~
Cast : Jieun, Hyunwoo
Other Cast: Jiyeon, Sulli
Lenght: Twoshoot
Writer : Latifah Ramdhani

    .Judulnya ! Apa lagi itu? gue ga tau bikin judul. Ternyata yang susah itu ya buat judul. Jadi, kalau judulnya KAGAK sesuai gue mian mian sorry ya. Trus kalau ceritanya ancur seancur muka gue, mohon maaf mian mian sorry bro~

Chapter1
 Suara musik game terdengar dari sudut cafe, seroang gadis dengan ponselnya bermain dengan sangat seru, dihadapan gadis itu, seroang pria yang terlihat seumuran dengan gadis itu membaca buku sambil mendengarkan musik dari erphonenya.
    Sesekali gadis itu meminum minuman yang ia pesan, dan saat ia kalah ia akan menggerutu kesal membuat pria dihadapannya itu menggeleng.
    “Huh! Aku bosan!” Kata gadis itu lalu meletakkan ponselnya dimeja. “Kau! Kapan kau berhenti membaca buku itu?”
    “....” Tidak ada jawaban dari pria dihadapannya.
    “Yak! Hyunwoo-ya.” Seru gadis itu lagi. pria yang ternyata bernama Hynwoo itu tidak menjawab apapun, mungkin ia tidak mendengar gadis itu memanggilnya.
    Gadis itu menghembuskan napas kesal. “Huh!! Kau selalu sibuk dengan dirimu sendiri.” Katanya kesal. “Hyunwoo-ya~~~” Kata gadis itu sedikit teriak yang membuat para pelanggan lain refleks berbalik mengarah mereka berdua.
    Akhirnya Hyunwoo, pria itu sadar kalau gadis dihadapannya memanggilnya.
    “Huh.. ada apa denganmu, Jieun-a? Kau sukses membuat mereka berbalik kearah kita.” Kata Hyunwoo sambil melepas erphone-nya dan menutup bukunya.
    Gadis yang ternyata bernama Jieun itu mencibir kesal. “Itu karena kau juga.” Katanya pelan. “Siapa suruh tidak memperdulikanku dan hanya memperhatikan buku itu.”
    “Jieun-a, apa kau lupa? Besok ada ujian, kenapa kau begitu santai? Hah? Kenapa kau tidak membuka buku pelajaranmu dan belajar bersamaku?”
    “Aishh.. jadi sejak tadi kau belajar? Huh, mian.. aku tidak tahu.” Kata Jieun sedikit menyesal. “Aku ingin belajar tapi aku benar-benar tidak ada mood untuk itu.”
    Hyunwoo menggeleng pelan.
    “Belajar pun percuma, tidak ada yang bisa masuk diotakku. Apalagi besok matematika.” Jieun menggeleng dan mengangkat kedua tangannya. “Aku pasrah kalau nilai matematikaku hancur. Itu bukan masalah, aku sudah terbiasa untuk itu.”
    Hyunwoo menghembuskan nafas dengan sedikit kesal. “Mari belajar bersama!! Aku akan mengajarimu apa yang tidak kau ketahui.” Katanya dengan sedikit emosi.
     “ Aku tidak ingin menyusahkanmu. Jadi, belajarlah sendiri. Mulai sekarang, aku tidak akan menganggumu kalau kau sedang belajar. Miann..” Kata Jieun lalu mengambil ponselnya dan kembali memainkan gamenya.
    _________________
    Malamnya, Jieun sedang menonton acara komedi, ia benar-benar tertawa terbahak-bahak membuat Ibunya beberapa kali menegurnya. Sampai ia berhenti tertawa ketika Hyunwoo menelponnya.
    Wae?” Jieun.
    “Apa kau sudah belajar?” Tanya Hyunwoo.
    Jieun menghembuskan nafas kesal. “Tidak, aku tidak akan belajar. Kalau kau menelponku hanya karena ingin bertanya seperti itu, lebih baik kau tidak usah menelponku.” Kata Jieun kesal dan memutuskan telepon. Ibunya yang memperhatikannya sejak tadi hanya bisa menggeleng melihat sikap anaknya.
    “Aishh.. selalu saja ia seperti itu. Memangnya ia siapa? Apa dia benar-benar namjachingu-ku atau dia orangtuaku? Cih, sikapnya benat-benar mirip Ayah.” Kata Jieun dengan emosi meluap-luap.
---
    Hyunwoo menggeleng saat Jieun memutuskan sambungan telepon. “Aish.. aku benar-benar kesal dengan sikapnya. kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis seperti dia??” Serunya kesal.
   Hyunwoo kembali mengambil pulpennya dan mencoba menjawab soal-soal yang ada pada buku paketnya. Tiba-tiba ia berhenti dan meletakkan pulpennya dengan kesal.
    “Aishh.. apa dia marah padaku? Ah, entahlah.” Katanya lalu memaksakan dirinya kembali mengambil pulpennya. Pikirannya dipenuhi oleh Jieun yang sepertinya marah padanya. Sesekali Hyunwoo menggeleng ketika ia mengingat Jieun lagi.
____________________
    Besok paginya di sekolah, Jieun datang lebih awal dan mengobrol dengan teman kelasnya.
    “Jadi.. apa kau belajar dengannya?” Tanya Salah satu teman kelasnya yang duduk disampingnya.
    “Siapa? Hyunwoo? Haha.. aku tidak suka belajar. Walau mau diajar oleh dia pun aku tetap tidak suka belajar.” Jawab Jieun dengan tawanya yang menggema di ruang kelasnya.
    Hyunwoo datang, dengan sikap pendiamnya ia berjalan masuk ke kelas. sekali melirik Jieun, lalu kembali melirik yang lainnya.
    Saat ujian berlangsung, Jieun benar-benar tidak tahu apapun, dia hanya menggeleng dan menjawab asal. Dia benar-benar sudah pasrah dengan otaknya yang benar-benar tidak bisa dalam soal matematika, fisika dan juga kimia.
    Hyunwoo sedikit memperhatikan Jieun, ia menghembuskan nafasnya dengan kesal.
_______________________________
    Setelah ujian, Hyunwoo duduk di samping kelasnya dibangku berwarna hijau panjang yang memang disiapkan untuk bersantai. Tiba-tiba Jieun lewat dengan temannya. Hyunwoo menatapnya sambil menyipitkan matanya dan melmbaikan tangan pertandah memanggilnya Jieun.
    Jieun membiarkan temannya pergi dan ia berjalan dengan kesal menuju Hyunwoo. Hyunwoo menyuruh Jieun duduk disampingnya.
    “Hm ada apa?” Tanya Jieun sambil tersenyum tipis pada Hyunwoo.
    “Bagaimana ujiannya?” Tanya Hyunwoo.
    Jieun tertawa pelan. “Kenapa menanyakan itu? Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi denganku saat mengerjakan soal matematika.”
    Hyunwoo menyipitkan matanya, mendecakkan lidah dan mengangguk. “Kau benar! kenapa aku bertanya seperti ini?”
    “Haha.. bagaimana? Apa kau mau ke kantin?” Tanya Jieun.
    Hyunwoo menggeleng. “Aku tidak lapar. Kau pergilah!”
    “Baiklah, paii..” Kata Jieun sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju kantin.
_____________________________________
    Jieun makan dengan lahapnya, ia sangat kelaparan karena tadi pagi ia tidak sarapan karena takut terlambat ke sekolah. Tapi, ternyata sampai di sekolah, ujian baru dimulai pukul 8.
    Teman kelasnya yang bernama Sulli menggeleng pelan. “Makanlah dengan pelan. Kalau kau tersedak kau akan menggemparkan kantin ini. haha.”
    “Kau diam saja, makanlah makananmu! Jangan mengurusiku. Aku sangat lapar sekarang.” Kata Jieun lalu memakan makanannya lagi.
    Tiba-tiba, seorang siswi datang dan duduk disamping Jieun dan menggeleng melihat kelakukan Jieun.
    “Aishh.. apa kau benar-benar pacar Hyunwoo?” Tanya siswi itu.
    Jieun berhenti memakan makanannya dan berbalik mengarah siswi itu. Jieun memperhatikan papan namanya. Siswi itu bernama Jiyeon. Jieun memutar bola matanya, meminum minuman yang ia pesan lalu kembali menatap Jiyeon.
    “Apa maksudmu?” Tanya Jieun sambil mengangkat sebelah alisnya.
    Jiyeon memperhatikan Jieun dari atas sampai bawah. “Aku tidak mengerti kenapa ia memilihmu. Kau sangat biasa.”
    Sulli yang kesal mendengarnya langsung menegurnya. “Yak! Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?”
    “Kau tahu siapa Hyunwoo? Dia adalah si siswa yang posisinya tidak bisa tergantikan dirangking 1 umum. Aku benar-benar ingin mengalahkan tapi itu mustahil. Hm.. lalu kau? Aishh.. kau hanya membuatnya malu dengan otakmu yang tidak berguna itu!”
    Jieun terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Jiyeon. Jieun tahu kalau Jiyeon adalah siswi yang pintar dan dia adalah siswi yang menempati rangking 2 umum. Tapi, ia kesal atas pernghinaan yang diberikan untuknya.
    “Apa aku pernah membuatmu kesal? Hah? Kenapa kau menghinaku dengan mulutmu itu?” Tanya Jieun berusaha menahan emosi. Ia menahan dirinya agar tidak menendang mulut Jiyeon.
    “Kau benar-benar!” Kata Sulli dan hampir saja meninju wajah Jiyeon, untung saja Jieun dengan cepat menahan tubuh Sulli.
    “Apa aku salah? Aku rasa aku benar, otakmu memang tidak berguna! Kau hanya membuatnya malu.. dan lagi.. aku mendengar dari yang lainnya kalau kau yang mengejar-ngejarnya. Cih, kau benar-benar tidak punya rasa malu!” Kata Jiyeon pedas. Jieun menatapnya kesal, amarahnya benar-benar susah ia tahan. Hampir saja ia ingin mengeluarkan kata-kata kotor untuk Jiyeon.
    “Hmm..” Jiyeon melirik jam tangannya. “Aku harus pergi. paii.. selamat menikmati sarapanmu!” Katanya dengan manis, namun tatapannya benar-benar sinis.
    Sulli mencibir. “Uekk.. sepertinya aku mau muntah melihat wajahnya.”
    Jieun menghembuskan nafas sedih. “Sepertinya ia benar.”
    “Yak Jieun-ah! Apa maksudmu? Hah? Dia hanya iri denganmu yang bisa mendapatkan Hyunwoo. Aku dengar ia juga menyukai Hyunwoo.”
    “Aku sudah kenyang. Aku pergi dulu.” Kata Jieun lalu pergi meninggalkan Sulli yang kesal dengan sikapnya. Otak Jieun benar-benar dipenuhi dengan apa yang dikatakan oleh Jiyeon. Sepertinya ia termakan oleh kalimat pedas Jiyeon.
______________________
    Jieun yang duduk dibelakang Hyunwoo memperhatikan punggung Hyunwoo dengan tatapan sedih.
    “Yap! Sepertinya Jiyeon benar. aku hanya membuat malu Hyunwoo dengan otakku yang pas-pasan. Aku tidak pintar dalam pelajaran apapun, apalagi matematika. Huh.. ya, mungkin Hyunwoo malu punya yeojachingu sepertiku. Semuanya fakta, Hyunwoo selalu menyuruhku belajar, jika ia menelponku.. ia hanya menanyakan apakah aku sudah belajar atau tidak? intinya ia berusaha keras merubahku.. entahlah, apa ini untuk kebaikanku, atau karena ia malu karena aku yang bodoh?”
    “Yak Jieun-a? Apa yang kau pikirkan? Aku sudah memanggil namamu sejak tadi?”
    Tiba-tiba Jieun tersadar. “Ah?”
    Derai tawa pun terdengar untuk Jieun. Jieun menghembuskan nafasnya. “Maaf.” Kata Jieun lalu berdiri dan membungkuk sampai 90derajat.
    “Araesso.. duduk!” Kata gurunya. Jieun pun duduk.
    “Yah.. pasti ia malu sekarang. Malu dengan sikapku.” Kata Jieun. “Harusnya aku tidak menyatakan rasa sukaku dan memaksanya menerimaku. Dia hanya kasihan padaku... ahh siall!! Ia bahkan tidak pernah mengatakan ‘saranghae’ padaku.. itu sudah jelas kalau ia tidak menyukaiku.”
________________________
    Hyunwoo menunggu Jieun yang dipanggil oleh walikelas di gerbang sekolah.
    “Huh.. dia lama sekali.” Kata Hyunwoo sedikit mengeluh.
    “Kenapa belum pulang?” Tanya Jiyeon yang tiba-tiba datang.
    “Sedang menunggu seseorang.” Jawab Hyunwoo.
    “Ouh.. apa Jieun?”
    Hyunwoo mengangguk.
    “Baiklah, aku duluan. Paii.. selamat menunggu.” Kata Jiyeon dengan manis. “Cih, dia benar-benar bodoh dalam memilih pasangan.” Batin Jiyeon kesal.
    Jieun keluar dari ruang walikelasnya lalu berjalan dengan lesuh. “Kemungkinan aku tidak bisa naik kelas, kalau nilaiku terus-terusan seperti ini. aishh.. lalu aku harus apa? Ini pemaksaan, kalau memang otakku ini tidak mampu, aku harus bagaimana? Arghh..”
    “Kau kenapa lama sekali?” Tanya Hyunwoo yang tiba-tiba ada dihadapannya.
    Jieun bingung. “Kenapa kau ada di sini?”
    “Kau pikir kenapa? Tentu saja menunggumu. Ayo!” Kata Hyunwoo.
    Jieun berjalan dengan lesuh.
    “Ada apa? Kenapa kau dipanggil walikelas?” Tanya Hyunwoo.
    “Bukan, bukan apa-apa.” Jawab Jieun.
    “Kalau itu bukan apa-apa, kenapa kau terlihat lesuh?” Tanya Hyunwoo.
    “Huh.. tidak apa.” Kata Jieun.
    Hyunwoo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Jieun.
_______________________
    Jieun memperhatikan nilai-nilainya diraport. Nilainya benar-benar standar. Bahkan ada yang dibawah standar.
    “Kenapa harus ada sekolah? Ini mengerikan. Kalau aku tidak naik kelas, apa yang akan mereka katakan padaku? Mereka akan menghinaku.”
    “Bagaimana dengan Hyunwoo? Huh, Hyunwoo akan semakin malu. Aku menyukainya, benar-benar menyukainya, tapi aku tidak tahu dia menyukaiku apa tidak, karena ia tidak pernah menyatakan hal itu.”
    Jieun teringat perkataan Jiyeon. “Huh! Dia benar. lebih baik aku mundur.. aku hanya membuatnya malu.”
    FlashBack
    “Aku menyukaimu!” Jieun menyatakan perasaannya pada Hyunwoo.
    Hyunwoo terkejut dan bingung dengan apa yang dinyatakan Jieun. Dia hanya mengkerutkan dahi dan tidak menjawab.
    Jieun menelan ludah. Hyunwoo terdiam.
    “Huh, baiklah. Aku tahu kalau kau tidak menyukaiku. Tapi, bisakah kau menerimaku? Kumohon! Aku sangat-sangat menyukaimu!! Kumohon!!“
    “Baiklah.”
    “Baiklah?” Jieun terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Hyunwoo akan menerimanya.
    “Apa kau menginginkan aku menjadi pacarmu?”
    Jieun mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
    “Baiklah, kalau begitu mulai sekarang aku adalah pacarmu.” Kata Hyunwoo yang membuat Jieun terkejut, heran namun senang.
    “Benarkah? Kau tidak bercanda, bukan?”
    Hyunwoo menggeleng. “Aku tidak bercanda.”
FlashBack –END-
    “Yap, mengherankan sekali kenapa ia bisa langsung menerimaku begitu saja. Kita tidak pernah akrab sama sekali. walau sekelas, kita hanya mengobrol seadanya. Yap, kesimpulannya adalah, Hyunwoo dulu menerimaku hanya karena KASIHAN. Bukankah ini benar-benar menyedihkan?”
    Jieun benar-benar sedih.
_________________________
    Hyunwoo duduk dimeja belajarnya, ia bingung dengan apa yang terjadi pada Jieun. Tiba-tiba ia teringat dengan Jiyeon.
    “Bukankah orang yang menyapaku tadi di gerbang adalah Jiyeon? Jiyeon yang.....”
    FlashBack
    “Itu mustahil! Dia itu bodoh! Bagaimana mungkin orang seperti Hyunwoo bisa menyukainya.”
    Hyunwoo yang duduk dibawah pohon, di taman belakang sekolahnya, tidak sengaja mendengar Jiyeon dan temannya membicarakan seseorang. Awalnya ia tidak peduli, tapi saat mendengar Jiyeon menyebut namanya, ia langsung tertarik mendengar apa yang dibicarakan Jiyeon dan temannya itu.
    “Ya kau benar! Jieun benar-benar tidak punya rasa malu. Harusnya ia sadar diri kalau dia itu sama sekali tidak pantas menyukai Hyunwoo.” Kata temannya.
    “Jieun?” Batin Hyunwoo.
    “Aku dengar dia akan menyatakan perasaannya.” Kata Jiyeon sambil menggeleng.
    “Benarkah? Aishh.. Jieun benar-benar nekat.”
    “Aku yakin ia akan ditolak. Haha, dan aku akan mempermalukannya di depan semua orang.”
    Hyunwoo yang mendengar semuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
    FlashBack –END-
    “Ahh.. iya. wanita licik itu! Karena Jiyeonlah aku menerima Jieun. Yap, sehari setelah itu Jieun menyatakan perasaannya padaku, awalnya aku benar-benar tidak ingin menerimanya.. huh menyedihkan. Tapi, mengingat yang dikatakan Jiyeon tentang ia akan mempermalukan Jieun didepan semua orang, aku menjadi kasihan dan menerimanya.”
    “Tapi, sungguh. Awalnya aku tersiksa dengan  sifat kebodohannya, kegilaannya, kemalasannya, dan semuanya.. tapi lama kelamaan aku terbiasa dengan itu semua dan menerimanya. Waktu terlalu cepat berlalu, awalnya hanya sebuah ‘rasa kasihan’ menjadi ‘rasa suka’ sial! Ini membuatku gila.”
    “Sebelum aku berpacaran dengannya, aku tidak pernah merasa sepusing seperti ini. hidupku benar-benar normal, dan sekarang? Semuanya berubah.”
____________________
     Jieun menghembuskan nafas sedih.
    “Aku akan ikut les privat.” Kata Jieun.
    “Woah.. itu bagus!” Kata Sulli.
    “Tapi, aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak.”
    “Kau hanya harus mencobanya. Tapi.. apa kau menyewa seorang guru?”
    Jieun memandang bingung Sulli. “Kalau aku tidak menyewa, siapa yang akan mengajariku? Aishh. Kau ini benar-benar!”
    “Tapi, pacarmukan bisa mengajarimu. Dia itu sangat pintar!”
    “Diamlah, aku tidak ingin membahas tentang dia.”
    “Hah? Apa kalian bertengkar.”
    “Aku bilang stop!”
     Araesso.” Kata Sulli sedikit kesal.
    Saat Hyunwoo masuk ke kelas, Jieun hanya terdiam, tidak melirik Hyunwoo sama sekali yang membuat Hyunwoo bingung lalu duduk ditempat duduknya.
    “Huh, aku benar-benar merinudukan dia! aku ingin sekali berbicara dengannya. Akhir-akhir ini kita jarang bicara. Tapi.. sepertinya ini lebih baik, aku tidak ingin menyusahkannya terlalu banyak. Dan sepertinya, jalan terbaik adalah..” Jieun menelan ludah. “Melepaskannya.” Katanya lalu menghembuskan nafas kesal.
    Hyunwoo mengkerutkan dahinya dengan sikap Jieun yang sekarang.
__________________
     Jieun mencubit-cububiti pipinya sendiri didepan cermin. “Arghh.. aku ingin sekali bertemu denganmu Hyunwoo!!!! Pulang sekolah tadi aku benar-benar menyesal tidak pulang bersamamu.. Hyunwoo-ya, ini mengesalkan!”
    Ketukan pintu terdengar. “Yak Jieun-a! Guru privatmu sudah datang.”
    Jieun benar-benar kesal. “Ne.” Kata Jieun dan berjalan menuju pintu dan membukanya.
    “Hyunwoo?, ke-kenapa kau ada di sini?” Tanya Jieun yang terkejut dengan kedatangan Hyunwoo, namun ia juga sangat senang.
    Hyunwoo memiringkan kepalanya dan mengangkat bahunya. “Ambil bukumu!” Katanya lalu masuk ke dalam kamar Jieun.
    “Ibu, kenapa ia ada di sini? Bukankah.. ahh..”
    “Ya, dia adalah guru privatmu. Ibu lebih mempercayai dia daripada yang lain, karena Ibu sudah mengenalnya lama.. jadi, mulai sekarang kau harus belajar dengan baik darinya. Ibu ingin mengambilkan kalian makanan ringan.” Kata Ibunya lalu berjalan menuju dapur.
    Jieun masih berdiri mematung didekat pintu. “Apa ini mimpi?”
    “Yak Jieun-a! Kenapa kau masih berdiri di sana? Ambil bukumu dan beritahu aku yang mana yang tidak kau mengerti!” Kata Hyunwoo yang duduk dikursi meja belajar Jieun sambil memperhatikan foto Jieun yang terpajang dimeja belajarnya dengan bingkai berwarna merah jambu. Hyunwoo hanya tersenyum tipis melihatnya.
    Jieun yang tahu kalau fotonya diperhatikan langsung mengambilnya dan menyimpan dilacinya lalu mengambil buku matematika dan mengambil sebuah kursi lalu duduk disamping Hyunwoo.
    “Semuanya.” Kata Jieun. “Aku tidak mengerti dengan semuanya.”
    Hyunwoo akhirnya mengajari Jieun dengan susah payah. Jieun benar-benar susah diajar.
    Ibunya masuk dan memberikan mereka sebuah makanan ringan, Hyunwoo berterimakasih dan Ibu Jieun pun keluar.
    Jieun memegang kepalanya. “Aku sangat pusing. Akhh..” Katanya mengeluh lalu mengambil biskuit yang dibawah oleh Ibunya dan langsung menggigitnya dengan kesal.
    Satu stengah jam Hyunwoo mengajarkan Jieun lalu ia memberikan 2 soal dan benar-benar membuat Hyunwoo harus menggelengkan kepalanya beberapa kali karena 2 soal yang diberikan Hyunwoo, Jieun hanya bisa menjawab stengah dari  nomor satu.
    “Huh, kau benar-benar susah diajar. Tapi, ini sudah  cukup baik karena kau bisa mengerjakan stengah dari nomor satu.” Kata Hyunwoo lalu berdiri dari duduknya. “Aku harus pulang.”
    Jieun mengangguk. “Gomawo.”
    “Hm.”
    Jieun mengantar Hyunwoo sampai depan pintu. “Pai.” Katanya lalu melambaikan tangan.
    Hyunwoo melangkah pergi, namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik. “Aku ingin jalan-jalan dulu. Karena aku sudah mengajarmu, kau harus membayarku dengan menemaniku.”
    ===
    Jieun dan Hyunwoo akhirnya berjalan-jalan ditaman kompleks perumahan.
    “Aishh.. apa aku mengatakannya saja sekarang? Mengatakan kalau aku akan melepaskannya dan meminta maaf karena menyusahkannya selama ini?” Batin Jieun.
    Hyunwoo mengajak Jieun duduk dibangku dibawah pohon rindang di taman itu.
    Hyunwoo melipat tangannya. “Butuh kesabaran untuk mengajarmu. Ini kali pertamanya aku mengajari seseorang dan rasanya benar-benar mengesalkan. Haha..”
    Mian.”
    “Kau tidak perlu minta maaf.” Kata Hyunwoo sambil bersandar.
    “Hyunwoo-ya..” Seru Jieun.
     “Hm?”
    Jieun menghembuskan nafasnya dengan berat. “Aku ingin mengakhiri semuanya.”
    Hyunwoo melirik Jieun, dahinya mengkerut karena bingung. “Mengakhiri apa?”
    “Mengakhiri hubungan kita, aku tidak ingin menyusahkanmu lagi. aku benar-benar sadar sekarang kalau aku tidak pantas berada disampingmu.”
    Hyunwoo terdiam, ia benar-benar bingung.
    “Aku hanya beban untukmu, aku hanya mempermalukanmu.. jadi, lebih baik kita akhiri semuanya. yahh.. terimakasih karena kau telah menerimaku. Terimakasih.”
    “Dan lagi, kau tidak usahh mengajariku lagi, aku akan mencari penggantimu.” Kata Jieun lalu berjalan pergi.
    Hyunwoo terdiam, ia benar-benar bingung dan hatinya sangat sakit mendengar apa yang dikatakan Jieun. Dan bodohnya lagi, ia hanya bisa diam.
____________________
To be contuined........
Kenape? Ceritanya kagak bagus? Iyalah. Siapa dulu dong yang buat? Gue! Hahaha.. mian mian sorry yo! Gue ga begitu berbakat :”( gue masih baru. Tapi, kalau kalian mau gue lanjutin chapter duanya.. gue bakal lanjutin, tapi kalian pada kagak mau. Ya udin. Gue ga bakal lanjut kok J Thanks yang udah baca! THAANKKSS!! LOL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar